SubmitYahoo Febri Irawanto - ilmu kita: Puisi Top

Google Plus

Tampilkan postingan dengan label Puisi Top. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Top. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2011

Puisi W.S. Rendra - ORANG-ORANG MISKIN

 ORANG-ORANG MISKIN
 
Oleh :
W.S. Rendra


Orang-orang miskin di jalan, 
yang tinggal di dalam selokan, 
yang kalah di dalam pergulatan, 
yang diledek oleh impian, 
janganlah mereka ditinggalkan. 

Angin membawa bau baju mereka. 
Rambut mereka melekat di bulan purnama. 
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, 
mengandung buah jalan raya. 

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa. 
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya. 
Tak bisa kamu abaikan. 

Bila kamu remehkan mereka, 
di jalan  kamu akan diburu bayangan. 
Tidurmu akan penuh igauan, 
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka. 

Jangan kamu bilang negara ini kaya 
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa. 
Jangan kamu bilang dirimu kaya 
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya. 
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu. 
Dan perlu diusulkan 
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda. 
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan 
masuk ke dalam tidur malammu. 
Perempuan-perempuan bunga raya 
menyuapi putra-putramu. 
Tangan-tangan kotor dari jalanan 
meraba-raba kaca jendelamu. 
Mereka tak bisa kamu biarkan. 

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol. 
Mereka akan menjadi pertanyaan 
yang mencegat ideologimu. 
Gigi mereka yang kuning 
akan meringis di muka agamamu. 
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang
akan hinggap di gorden presidenan 
dan buku programma gedung kesenian. 

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejara
bagai udara panas yang selalu ada, 
bagai gerimis yang selalu membayang. 
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita, 
atau ke dada mereka sendiri. 
O, kenangkanlah : 
orang-orang miskin 
juga berasal dari kemah Ibrahim 

  
Yogya, 4 Pebruari 1978 
Potret Pembangunan dalam Puisi 

Posted by febri irawanto

Puisi W.S. Rendra - LAGU SERDADU

LAGU SERDADU

Oleh :
W.S. Rendra
Kami masuk serdadu dan dapat senapang 
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang 
Yoho, darah kami campur arak! 
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak 
Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali 
Wahai, tanah yang baik untuk mati 
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah 
cukilah ia bagi puteraku di rumah 
  
   
Siasat 
No.  630, th. 13 
Nopember 1959

Posted by febri irawanto

Puisi W.S. Rendra - HAI, KAMU !

 HAI, KAMU ! 
Oleh : 
W.S. Rendra

  
Luka-luka di dalam lembaga, 
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa, 
noda di dalam pergaulan antar manusia, 
duduk di dalam kemacetan angan-angan. 
Aku berontak dengan memandang cakrawala. 

Jari-jari waktu menggamitku. 
Aku menyimak kepada arus kali. 
Lagu margasatwa agak mereda. 
Indahnya ketenangan turun ke hatiku. 
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku. 
  
Jakarta, 29 Pebruari 1978 
Potret Pembangunan dalam Puisi 

Posted By febri irawanto

Puisi W.S. Rendra - GUGUR

GUGUR
 Oleh :
W.S. Rendra
  
   
  
Ia merangkak 
di atas bumi yang dicintainya 
Tiada kuasa lagi menegak 
Telah ia lepaskan dengan gemilang 
pelor terakhir dari bedilnya 
Ke dada musuh yang merebut kotanya 
  
Ia merangkak 
di atas bumi yang dicintainya 
Ia sudah tua 
luka-luka di badannya 
  
Bagai harimau tua 
susah payah maut menjeratnya 
Matanya bagai saga 
menatap musuh pergi dari kotanya 
  
Sesudah pertempuran yang gemilang itu 
lima pemuda mengangkatnya 
di antaranya anaknya 
Ia menolak 
dan tetap merangkak 
menuju kota kesayangannya 

Ia merangkak 
di atas bumi yang dicintainya 
Belumlagi selusin tindak 
mautpun menghadangnya. 
Ketika anaknya memegang tangannya 
ia berkata : 
" Yang berasal dari tanah 
kembali rebah pada tanah. 
Dan aku pun berasal dari tanah 
tanah Ambarawa yang kucinta 
Kita bukanlah anak jadah 
Kerna kita punya bumi kecintaan. 
Bumi yang menyusui kita 
dengan mata airnya. 
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah. 

Bumi kita adalah juwa dari jiwa. 
Ia adalah bumi nenek moyang. 
Ia adalah bumi waris yang sekarang. 
Ia adalah bumi waris yang akan datang." 
Hari pun berangkat malam 
Bumi berpeluh dan terbakar 
Kerna api menyala di kota Ambarawa 
  
  
Orang tua itu kembali berkata : 
"Lihatlah, hari telah fajar ! 
Wahai bumi yang indah, 
kita akan berpelukan buat selama-lamanya ! 

Nanti sekali waktu 
seorang cucuku 
akan menacapkan bajak 
di bumi tempatku berkubur 
kemudian akan ditanamnya benih 
dan tumbuh dengan subur 

Maka ia pun berkata : 
-Alangkah gemburnya tanah di sini!" 
Hari pun lengkap malam 
ketika menutup matanya 

Posted by febri irawanto

Puisi W.S. Rendra - GERILYA

GERILYA
 
Oleh :
W.S. Rendra

Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung 
terkecap pahitnya tembakau 
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling dijalan 

Dengan tujuh lubang pelor 
diketuk gerbang langit 
dan menyala mentari muda 
melepas kesumatnya 

Gadis berjalan di subuh merah 
dengan sayur-mayur di punggung 
melihatnya pertama 
Ia beri jeritan manis 
dan duka daun wortel 

Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling dijalan 

Orang-orang kampung mengenalnya 
anak janda berambut ombak 
ditimba air bergantang-gantang 
disiram atas tubuhnya 

Tubuh biru 
tatapan mata biru 
lelaki berguling dijalan 

Lewat gardu Belanda dengan berani 
berlindung warna malam 
sendiri masuk kota 
ingin ikut ngubur ibunya 


   Siasat 
Th IX, No. 42
1955

Posted by febri irawanto

Puisi W.S. Rendra - DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

Oleh :
W.S. Rendra


Tuhanku, 
WajahMu membayang di kota terbakar 
dan firmanMu terguris di atas ribuan 
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa 
Tanah sepi kehilangan lelakinya 
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini 
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti 
sempurnalah sudah warna dosa 
dan mesiu kembali lagi bicara 
Waktu itu, Tuhanku, 
perkenankan aku membunuh 
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku 
adalah satu warna 
Dosa dan nafasku 
adalah satu udara. 
Tak ada lagi pilihan 
kecuali menyadari 
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan 
oleh bibirku yang terjajah ? 
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai 
mendekap bumi yang mengkhianatiMu 

Tuhanku 
Erat-erat kugenggam senapanku 
Perkenankan aku membunuh 
Perkenankan aku menusukkan sangkurku 
  

Mimbar Indonesia 
Th. XIV, No. 25 
18 Juni 1960

Posted by febri irawanto

Puisi W.S. Rendra - AKU TULIS PAMPLET INI

AKU TULIS PAMPLET INI 
  
  
Oleh : 
W.S. Rendra


Aku tulis pamplet ini 
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah 
Orang-orang bicara dalam kasak-
dan ungkapan diri ditekan 
menjadi peng - iya - an 
Apa yang terpegang hari ini 
bisa luput besok pagi 
Ketidakpastian merajalela. 
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki 
menjadi marabahaya 
menjadi isi kebon binatang 
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, 
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam 
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. 
Tidak mengandung perdebatan 
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan 
Aku tulis pamplet ini 
karena pamplet bukan tabu bagi penyair 
Aku inginkan merpati pos. 
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku 
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian. 
Aku tidak melihat alasan 
kenapa harus diam tertekan dan termangu. 
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. 
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju. 
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? 
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. 
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka. 
Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. 
Rembulan memberi mimpi pada dendam. 
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah 
  yang teronggok bagai  sampah 
  Kegamangan. Kecurigaan. 
  Ketakutan. 
  Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini 
karena kawan dan lawan adalah saudara 
Di dalam alam masih ada cahaya. 
Matahari yang tenggelam diganti rembulan. 
Lalu besok pagi pasti terbit kembali. 
Dan di dalam air lumpur kehidupan, 
aku melihat bagai terkaca : 
ternyata kita, toh, manusia ! 

Pejambon Jakarta 27 April 1978 
Potret Pembangunan dalam Puisi 


 Posteed by febri irawanto

Puisi Chairil Anwar - RUMAHKU

RUMAHKU

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Kulari dari gedung lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
jika menagih yang satu

April 1943

Posted by febri irawanto

Puisi Chairil Anwar - DOA

 Puisi Chairil Anwar  - DOA


kepada Pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Cahayamu panas suci
tinggal kerdip lilin dikelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara dinegeri asing

Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

November 1943

Posted by febri irawanto

Puisi Chairil Anwar - Aku

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerajang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mahu hidup seribu tahun lagi

March 1943

Posted by febri Irawanto

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Blog Pinger Free