SubmitYahoo Misteri Pulau Paskah ~ Febri Irawanto - ilmu kita

Google Plus

Sabtu, 29 Oktober 2011

Misteri Pulau Paskah

Pulau Paskah

askah  (bahasa Polinesia:  Rapa Nui,  bahasa Spanyol:   Isla de Pascua)  adalah sebuah
pulau milik Chili yang terletak di selatan Samudra Pasifik. Walaupun jaraknya 3.515 km
sebelah barat Chili Daratan, secara administratif ia termasuk dalam Provinsi Valparaiso.
Pulau   Paskah   berbentuk   seperti   segitiga.   Daratan   terdekat   yang   berpenghuni   ialah   Pulau
Pitcairn yang jaraknya 2.075 km sebelah barat. Luas Pulau Paskah sebesar 163,6 km². Menurut
sensus 2002, populasinya berjumlah 3.791 jiwa yang mayoritasnya menetap di ibukota Hanga
Roa.  Pulau  ini   terkenal  dengan banyaknya patung-patung  (moai),  patung berusia 400  tahun
yang dipahat dari batu yang kini terletak di sepanjang garis pantai.'

Ahli  navigasi  asal  Belanda Jakob Roggeveen menemukan Pulau Paskah pada Hari
Paskah  tahun 1722.  Perlu diketahui  bahwa nama "Rapa Nui" bukan nama asli  Pulau Paskah
yang diberikan oleh suku Rapanui. Nama itu diciptakan oleh para imigran pekerja dari suku asli
Rapa di  Kepulauan Bass yang menyamakannya dengan kampung halamannya.  Nama yang
diberikan   suku  Rapanui   bagi   pulau   ini   adalah  Te   pito   o   te   henua   ("Puser  Dunia")   karena
keterpencilannya,   namun   sebutan   ini   juga   diambil   dari   lokasi   lain,   mungkin   dari   sebuah
bangunan di Marquesas.
Patung-patung besar dari batu, atau moai, yang menjadi simbol Pulau Paskah dipahat
pada masa yang lebih dahulu dari yang diperkirakan. Arkeologis kini memperkirakan pemahatan
tersebut   berlangsung   antara   1600   dan   1730,   patung   yang   terakhir   dipahat   ketika   Jakob
Roggeveen menemukan pulau ini. Terdapat lebih dari 600 patung batu monolitis besar (moai).
Walaupun bagian yang sering terlihat  hanyalah "kepala",  moai  sebenarnya mempunyai batang
tubuh yang  lengkap;  namun banyak moai  yang  telah  tertimbun hingga  lehernya.  Kebanyakan
dipahat dari batu di Rano Raraku. Tambang di sana sepertinya telah ditinggalkan dengan tiba-
tiba, dengan patung-patung setengah jadi yang ditinggalkan di batu.

Teori populer menyatakan
bahwa   moai   tersebut   dipahat   oleh   penduduk   Polinesia   (Rapanui)   pada   saat   pulau   ini
kebanyakan   berupa   pepohonan   dan   sumber   alam masih   banyak   yang  menopang   populasi
10.000-15.000 penduduk asli  Rapanui.  Mayoritas moai  masih berdiri   tegak ketika Roggeveen
datang  pada  1722.  Kapten   James  Cook   juga  melihat  banyak  moai   yang   berdiri   ketika   dia
Ahli  navigasi  asal  Belanda Jakob Roggeveen menemukan Pulau Paskah pada Hari
Paskah  tahun 1722.  Perlu diketahui  bahwa nama "Rapa Nui" bukan nama asli  Pulau Paskah
yang diberikan oleh suku Rapanui. Nama itu diciptakan oleh para imigran pekerja dari suku asli
Rapa di  Kepulauan Bass yang menyamakannya dengan kampung halamannya.  Nama yang
diberikan   suku  Rapanui   bagi   pulau   ini   adalah  Te   pito   o   te   henua   ("Puser  Dunia")   karenaketerpencilannya,   namun   sebutan   ini   juga   diambil   dari   lokasi   lain,   mungkin   dari   sebuahbangunan di Marquesas.

Patung-patung besar dari batu, atau moai, yang menjadi simbol Pulau Paskah dipahat
pada masa yang lebih dahulu dari yang diperkirakan. Arkeologis kini memperkirakan pemahatan
tersebut   berlangsung   antara   1600   dan   1730,   patung   yang   terakhir   dipahat   ketika   Jakob
Roggeveen menemukan pulau ini.

Terdapat lebih dari 600 patung batu monolitis besar (moai).
Walaupun bagian yang sering terlihat  hanyalah "kepala",  moai  sebenarnya mempunyai batang
tubuh yang  lengkap;  namun banyak moai  yang  telah  tertimbun hingga  lehernya.  Kebanyakan
dipahat dari batu di Rano Raraku. Tambang di sana sepertinya telah ditinggalkan dengan tiba-
tiba, dengan patung-patung setengah jadi yang ditinggalkan di batu. Teori populer menyatakan
bahwa   moai   tersebut   dipahat   oleh   penduduk   Polinesia   (Rapanui)   pada   saat   pulau   ini
kebanyakan   berupa   pepohonan   dan   sumber   alam masih   banyak   yang  menopang   populasi
10.000-15.000 penduduk asli  Rapanui.  Mayoritas moai  masih berdiri   tegak ketika Roggeveen
datang  pada  1722.  Kapten   James  Cook   juga  melihat  banyak  moai   yang   berdiri   ketika   dia

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Blog Pinger Free