Sunni Syafi'i Di Indonesia
Dalam
panduan buku sejarah yang dipelajari di sekolah-sekolah negeri
diterangkan, bahwa masuknya Islam ke Indonesia itu dibawa oleh para
pedagang dari Gaujarat India. Sebenarnya, mereka adalah para ulama yang
datang ke Indonesia untuk berdakwah secara murni. Namun karena melihat
sektor perdagangan lebih memungkinkan untuk dijadikan batu loncatan
dalam mengenal kultur masyarakat, maka dari sektor inilah para ulama
asal Gaujarat tersebut memulai langkah dakwahnya.
panduan buku sejarah yang dipelajari di sekolah-sekolah negeri
diterangkan, bahwa masuknya Islam ke Indonesia itu dibawa oleh para
pedagang dari Gaujarat India. Sebenarnya, mereka adalah para ulama yang
datang ke Indonesia untuk berdakwah secara murni. Namun karena melihat
sektor perdagangan lebih memungkinkan untuk dijadikan batu loncatan
dalam mengenal kultur masyarakat, maka dari sektor inilah para ulama
asal Gaujarat tersebut memulai langkah dakwahnya.
Jika
ditarik garis ke atas dari segi nasab, ternyata para ulama asal
Gaujarat yang dimaksudkan adalah keturunan dari bangsa Arab yang hidup
di negeri Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut. Umat Islam di daerah
Hadramaut ini mayoritas bermadzhab Sunni Syafi`i (beraqidah Ahlussunnah
wal Jama`ah dan beribadah menggunakan tatacara madzhab Syafi`i).
ditarik garis ke atas dari segi nasab, ternyata para ulama asal
Gaujarat yang dimaksudkan adalah keturunan dari bangsa Arab yang hidup
di negeri Yaman, tepatnya dari daerah Hadramaut. Umat Islam di daerah
Hadramaut ini mayoritas bermadzhab Sunni Syafi`i (beraqidah Ahlussunnah
wal Jama`ah dan beribadah menggunakan tatacara madzhab Syafi`i).
Bermula
dari para ulama asal Hadramaut, mereka menyebarkan agama Islam ke
wilayah Asia lewat sektor perdagangan. Pada akhirnya mereka masuk ke
negeri India. Umumnya para ulama asal Hadramaut ini datang tanpa
disertai keluarga, hingga akhirnya mereka melaksanakan pernikahan
asimilasi dengan para wanita setempat, dan melahirkan para ulama dari
pernikahan campur berdarah Arab-Gaujarat. Islam pun berkembang di
Gaujarat dengan nuansa madzhab Sunni-Syafi`i. Pada era berikutnya para
ulama dari keturunan asimilasi Arab-Gaujarat inilah yang membawa Islam
ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.
dari para ulama asal Hadramaut, mereka menyebarkan agama Islam ke
wilayah Asia lewat sektor perdagangan. Pada akhirnya mereka masuk ke
negeri India. Umumnya para ulama asal Hadramaut ini datang tanpa
disertai keluarga, hingga akhirnya mereka melaksanakan pernikahan
asimilasi dengan para wanita setempat, dan melahirkan para ulama dari
pernikahan campur berdarah Arab-Gaujarat. Islam pun berkembang di
Gaujarat dengan nuansa madzhab Sunni-Syafi`i. Pada era berikutnya para
ulama dari keturunan asimilasi Arab-Gaujarat inilah yang membawa Islam
ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Karena
masuknya Islam ke Indonesia juga dibawa para ulama asal Arab-Gaujarat,
dan diperkenalkan kepada masyarakat melewati sektor perdagangan, serta
pernikahan asimilasi dengan wanita Indonesia, maka Islam asli Indonesia
pun bermadzhab Sunni Syafi`i. Demikian ini selaras dengan Islam yang
ada di Hadramaut Yaman sebagai induk utama. Bukti riil yang tidak bisa
dipungkiri, adalah masih banyak penduduk Indonesia hingga saat ini yang
beretnis Arab, namun lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka
pun masih memiliki datuk-datuk yang berada di Hadramaut.
masuknya Islam ke Indonesia juga dibawa para ulama asal Arab-Gaujarat,
dan diperkenalkan kepada masyarakat melewati sektor perdagangan, serta
pernikahan asimilasi dengan wanita Indonesia, maka Islam asli Indonesia
pun bermadzhab Sunni Syafi`i. Demikian ini selaras dengan Islam yang
ada di Hadramaut Yaman sebagai induk utama. Bukti riil yang tidak bisa
dipungkiri, adalah masih banyak penduduk Indonesia hingga saat ini yang
beretnis Arab, namun lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka
pun masih memiliki datuk-datuk yang berada di Hadramaut.
Etnis
Arab yang berada di Indonesia sering disebut dengan istilah kalangan
Habaib dan Masyayekh. Atau dalam kontek ini lebih tepat disebut sebagai
warga Arab-Indonesia. Demikian ini, karena mereka memiliki silsilah
nasab atau garis keturunan dari pihak ayah yang bersambung kepada kakek
moyangnya di Hadramaut, tetapi perilaku, adat, serta bahasa mereka
lebih dominan Indonesia. Bahkan tidak jarang di kalangan warga
Arab-Indonesia yang hanya bisa berbahasa Indonesia, dan meninggalkan
bahasa kakek moyangnya. Menurut sejarah, bahwa Wali Songo termasuk
warga Arab-Indonesia keturunan Hadramaut, karena itu dakwah yang
disampaikan oleh Wali Songo berafiliasi kepada madzhab Sunni Syafi`i.
Arab yang berada di Indonesia sering disebut dengan istilah kalangan
Habaib dan Masyayekh. Atau dalam kontek ini lebih tepat disebut sebagai
warga Arab-Indonesia. Demikian ini, karena mereka memiliki silsilah
nasab atau garis keturunan dari pihak ayah yang bersambung kepada kakek
moyangnya di Hadramaut, tetapi perilaku, adat, serta bahasa mereka
lebih dominan Indonesia. Bahkan tidak jarang di kalangan warga
Arab-Indonesia yang hanya bisa berbahasa Indonesia, dan meninggalkan
bahasa kakek moyangnya. Menurut sejarah, bahwa Wali Songo termasuk
warga Arab-Indonesia keturunan Hadramaut, karena itu dakwah yang
disampaikan oleh Wali Songo berafiliasi kepada madzhab Sunni Syafi`i.
Di
awal-awal agama Islam dianut oleh bangsa Indonesia, maka seluruh umat
Islam yang pada akhirnya menjadi penduduk mayoritas negara ini berwarna
satu yaitu bermadzhab Sunni Syafi`i. Karena menganut satu madzhab, maka
tidak banyak terjadi permasalahan di dalam tubuh umat Islam di negeri
tercinta Indonesia. Mereka menyatu dalam persatuan yang kompak, saling
bahu membahu membentuk karakter bangsa Indonesia. Demikianlah, hingga
datang Belanda yang berusaha menjajah bangsa Indonesia dari segala
sektor termasuk pada bidang keagamaan.
awal-awal agama Islam dianut oleh bangsa Indonesia, maka seluruh umat
Islam yang pada akhirnya menjadi penduduk mayoritas negara ini berwarna
satu yaitu bermadzhab Sunni Syafi`i. Karena menganut satu madzhab, maka
tidak banyak terjadi permasalahan di dalam tubuh umat Islam di negeri
tercinta Indonesia. Mereka menyatu dalam persatuan yang kompak, saling
bahu membahu membentuk karakter bangsa Indonesia. Demikianlah, hingga
datang Belanda yang berusaha menjajah bangsa Indonesia dari segala
sektor termasuk pada bidang keagamaan.
Karena
pengaruh penjajah Belanda yang sengaja berusaha memecah belah umat
Islam, mulailah bermunculan beberapa perbedaan pendapat di antara
tokoh-tokoh Islam. Bahkan perbedaan tersebut berpengaruh pula di
kalangan awam umat Islam. Lebih parah lagi, di saat penjajah Belanda
telah pulang ke negara asalnya, mereka menyisakan warisan perpecaha di
kalangan umat Islam, dengan bermunculannya aliran demi aliran yang
menyebar di kalangan umat Islam di luar kontek Sunni Syafi`i.
Bahkanpengaruh penjajah Belanda yang sengaja berusaha memecah belah umat
Islam, mulailah bermunculan beberapa perbedaan pendapat di antara
tokoh-tokoh Islam. Bahkan perbedaan tersebut berpengaruh pula di
kalangan awam umat Islam. Lebih parah lagi, di saat penjajah Belanda
telah pulang ke negara asalnya, mereka menyisakan warisan perpecaha di
kalangan umat Islam, dengan bermunculannya aliran demi aliran yang
menyebar di kalangan umat Islam di luar kontek Sunni Syafi`i.
tidak jarang aliran yang baru bermunculan, tiba-tiba berusaha menafikan
eksistensi madzhab Sunni Syafi`i, dalam menjalankan amaliyah
sehari-hari bagi individu setiap muslim, amaliyah keluarga muslim,
keyakinan masyarakat muslim, bahkan tatacara mengatur kehidupan
bernegara sebaris dengan ajaran syariat Islam dalam koridor Sunni
Syafi’i.
Namun berkat rahmat dan pertolongan Allah, mayoritas umat
Islam Indonesia hingga kini tetap bermadzhab Sunny Syafi`i, bahkan
tetap mendominasi kependudukan di negeri ini. Maka sudah sewajarnya
jika para pelaku roda pemerintahan dewasa ini, menjadikan madzhab Sunni
Syafi`i sebagai madzhab resmi bangsa Indonesia. Dengan tujuan agar
kesatuan dan kebersatuan umat dapat terwujud kembali seperti di saat
awal bangsa Indonesia memeluk agama Islam.
Sumber : www.pejuangislam.com



0 komentar:
Posting Komentar