Ciri Ciri Planet yang layak untuk dihuni
Judhistira
Aria Utama (Himpunan Astronom Amatir
Bandung)
Bayangkan
sumber daya di Bumi sudah habis terkuras. Lingkungan tidak lagi nyaman untuk
dihuni
seiring dengan makin membeludaknya jumlah manusia. Lantas, di mana selanjutnya
kita
akan
berada? "Diam- diam" para ahli sedang sibuk mencari jawabannya.
Daerah
hunian (habitable zone) didefinisikan sebagai tempat dalam suatu rentang jarak
tertentu
dari bintang induk yang memungkinkan keberadaan air, dalam wujud cair, di
permukaan
planet pengiringnya. Secara teori, kondisi yang memungkinkan dijumpainya air
dalam
fase ini akan mendukung munculnya "benih-benih kehidupan". Air dalam
wujud cair
merupakan
pelarut terbaik yang akan memungkinkan berlangsungnya reaksi dari berbagai
unsur
maupun senyawa kimia yang ada. Karena itu, tidak mengherankan bila keberadaan
air
dalam
fase ini dijadikan pertanda yang akan memberikan harapan bagi kemunculan suatu
bentuk
kehidupan.
Planet-planet
raksasa di luar Tata Surya yang mengorbit bintang-bintang setipe Matahari
(extrasolar
planets) sejauh ini tidak masuk ke dalam pertimbangan sebagai tempat layak huni
untuk
kehidupan seperti yang kita kenal. Bila demikian halnya, lantas di mana kita
dapat
menaruh
harap? Jawaban yang masuk akal adalah di satelit-satelit alam yang dimiliki
planetplanet gas tersebut.
Dalam
Tata Surya kita, semakin besar massa suatu planet gas, makin besar pula massa
total
satelit-satelitnya.
Artinya, bisa saja planet-planet gas luar Tata Surya tersebut dengan
ukurannya
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Jupiter akan memiliki satelit
seukuran
Planet
Mars, misalnya. Dipilihnya satelit-satelit alam sebagai situs yang
"menjanjikan" tidak
terlepas
dari fakta bahwa banyak di antara planet-planet gas raksasa tersebut yang
berada di
"habitable
zone" dari bintang-bintang induknya (1-1,9 AU; 1 AU sekitar 150 juta
kilometer).
Pertanyaan
selanjutnya adalah syarat-syarat apa yang harus dimiliki bakal hunian
alternatif
tersebut
untuk dapat memberikan daya dukung bagi kehidupan?
Keberadaan
atmosfer
Untuk
dapat menjadi tempat hunian yang ideal, satelit-satelit tersebut harus memiliki
atmosfer.
Bumi,
satunya-satunya planet di Tata Surya yang hingga kini mampu memberikan daya
dukung
bagi
tumbuh-kembang berbagai bentuk kehidupan, memiliki atmosfer yang moderat. Bulan
sebagai
satelit alami Bumi dengan massa sekitar 1/100 kali massa Bumi justru tidak
memiliki
atmosfer
sama sekali. Dari sini, satelit-satelit extrasolar planets tersebut harus jauh
lebih besar
daripada
ukuran Bulan kita, setidaknya seukuran satelit-satelit terbesar dari
planet-planet
raksasa
di Tata Surya.
Lapisan
udara yang menyelimuti permukaan satelit ini berguna dalam melindungi kehidupan
di
permukaannya
terhadap bombardir radiasi-radiasi berbahaya dari angkasa, di samping
berperan
pula sebagai penjaga temperatur permukaan agar tetap nyaman. Untuk dapat
mempertahankan
keberadaan atmosfer dalam jangka waktu yang lama, proses pelepasan gasgas
atmosfer-utamanya
di atmosfer bagian atas-harus berjalan lambat. Ini bisa dicapai bila
temperatur
atmosfer di sana cukup rendah atau satelit yang bersangkutan cukup masif
sehingga
akan mempunyai kecepatan lepas (escape velocity) yang besar untuk dapat
menahan
lolosnya atom-atom gas di lapisan atas tersebut.
Bercermin
pada apa yang telah terjadi di Bumi, para ilmuwan meyakini bahwa atmosfer di
planet
hijau ini terbentuk dari gas-gas yang dikeluarkan dari perut Bumi melalui
aktivitas
vulkanik.
Penjelasan lebih lengkap agaknya diperlukan mengingat komposisi atmosfer saat
ini
yang
jauh berbeda dengan gas-gas yang dihasilkan gunung berapi; aktivitas vulkanik
tidak
"membuang"
oksigen ke angkasa, sementara di atmosfer sekitar 21 persen merupakan gas ini.
Apa
yang membuat atmosfer Bumi berubah secara drastis? Dari mana oksigen yang
menjadi
"gas
hidup" bagi organisme aerob ini berasal?
Dua
buah teori telah diusulkan untuk menjelaskan bagaimana terbentuknya oksigen.
Yang
pertama
adalah melalui proses fotodisosiasi, yaitu pemecahan uap air oleh cahaya
ultraviolet
yang
akan menghasilkan hidrogen bebas dan oksigen menurut reaksi: 2H2 + Ultraviolet
2H2O
Sayangnya,
karena atom gas ringan seperti hidrogen akan dengan mudah lepas dari gravitasi
Bumi,
proses ini tidak akan mampu menyediakan oksigen dalam jumlah yang melimpah
seperti
yang
sekarang kita jumpai.
Teori
kedua mengusulkan bahwa sumber oksigen tidak lain adalah kehidupan itu sendiri,
melalui
proses yang disebut fotosintesis, di mana karbon dioksida dan air bereaksi
untuk
membentuk
karbohidrat dan oksigen, 6CO2 + 6H2O C6H12O6+ 6O2
Diperkirakan,
99 persen dari jumlah total oksigen yang dibebaskan ke atmosfer sejak masamasa
awal
Bumi diperoleh dari proses fotosintesis ini, sementara hanya 1 persennya yang
berasal
dari fotodisosiasi.
Aktivitas
geologi
Aktivitas
geologi di Bumi dimungkinkan ada karena tersedianya sumber panas internal di
pusat
Bumi.
Aktivitas geologi ini diperlukan dalam menjalankan siklus karbonat-silikat yang
akan
mengontrol
temperatur atmosfer secara menyeluruh. Ketiadaan aktivitas geologi ini akan
membuat
lingkungan mengalami pendinginan hingga menjadi zaman es abadi.
Siklus
karbonat-silikat, seperti yang kita jumpai berlangsung di Bumi, dimulai dengan
reaksi
antara
karbon dioksida dan mineral-mineral silikat. Hasil reaksi yang terbentuk akan
terbawa
sampai
ke laut dan tersimpan dalam bentuk deposit karbonat. Selanjutnya, melalui
aktivitas
geologi
seperti proses tektonik, deposit karbonat tersebut dapat mencapai litosfer
(lapisan
batuan)
di permukaan Bumi. Setibanya di permukaan Bumi, deposit karbonat akan mengalami
pemanasan
dan diubah kembali menjadi karbon dioksida melalui aktivitas vulkanik.
Keberadaan
karbon dioksida di atmosfer akan menahan kalor yang diterima dari Matahari
lepas
kembali untuk menjaga kestabilan temperatur di permukaan. Sumber panas internal
bagi
planet-planet
seperti Bumi berasal dari peluruhan isotop radioaktif. Semakin masif planet
yang
bersangkutan,
semakin lama siklus karbonat-silikat yang dapat berlangsung.
Pada
satelit-satelit extrasolar planets, selain peluruhan isotop radioaktif, sumber
panas internal
yang
mereka miliki juga diperoleh dari proses pemanasan akibat pasang-surut (tidal
heating).
Io,
salah satu satelit terbesar Jupiter, adalah contohnya. Satelit paling dalam di
antara ke
empat
satelit Galilean ini dipastikan mengalami tidal heating dan menjadikannya benda
langit
alami
pengiring planet dengan aktivitas vulkanik paling aktif di Tata Surya kita.
Besar-kecilnya
tidal
heating sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti massa satelit dan
planet
induknya,
struktur internal satelit yang bersangkutan, ukuran setengah sumbu-panjang dan
kelonjongan
orbit satelit, serta jauh-dekatnya orbit satelit ini terhadap satelit lain (bila
ada)
dalam
sistem tersebut.
Panjang
hari
Model
komputer yang ada menunjukkan bahwa sembarang satelit yang mengorbit extrasolar
planets
dapat mencapai sinkronisasi orbit, artinya waktu yang diperlukan satelit
tersebut untuk
satu
kali berotasi sama dengan selang waktu yang diperlukannya untuk satu kali
mengelilingi
planet
induk (revolusi). Menurut definisi sinkronisasi orbit yang lebih tegas, periode
rotasi satelit
tersebut
juga tepat sama dengan periode rotasi planetnya.
Peristiwa
yang sama telah terjadi pada Bulan kita. Selama ini wajah Bulan yang menghadap
Bumi
adalah wajah yang sama, hasil dari interaksi pasang-surut selama lebih dari
ratusan juta
tahun
yang lalu. Satu hari di Bulan berjalan lebih lama daripada di Bumi, yakni selama
lebih
kurang
27 hari Bumi (sama dengan waktu yang diperlukannya untuk mengitari Bumi satu
kali).
Kasus
yang lebih ekstrem terjadi pada satu-satunya satelit Pluto, Charon. Selain
memiliki
periode
rotasi yang sama dengan periode orbitnya, periode rotasi Charon juga sama
dengan
periode
rotasi Pluto (sekitar enam hari Bumi). Sebagai akibatnya, selain bahwa wajah
Charon
yang
sama selalu menghadap ke Pluto, juga wajah Charon hanya dapat dinikmati dari
permukaan
Pluto dari satu belahan saja. Bayangkan, malam hari di satu belahan Pluto akan
selalu
berhiaskan wajah Charon, sementara malam hari di belahan lainnya tidak akan
pernah
menjumpai
penampakan satelit tersebut.
Dengan
asumsi bahwa satelit-satelit yang dimiliki extrasolar planets memiliki periode
orbit 1,7-
16
hari Bumi seperti halnya satelit-satelit terbesar yang ada di Tata Surya kita,
perhitungan
yang
dilakukan Stephen Dole (1960) menunjukkan bahwa satelit dengan atmosfer seperti
yang
dimiliki
Bumi tidak akan mampu menyediakan tempat yang dapat mendukung kehidupan saat
periode
rotasinya lebih dari empat hari. Pada kondisi ini, perubahan temperatur di
permukaan
satelit
akan menjadi sangat besar.
Ukuran
orbit
Ukuran
orbit, dalam hal ini setengah sumbu-panjang dan kelonjongan, sangat berpengaruh
terhadap
daya dukung planet. Sejumlah extrasolar planets yang berhasil ditemukan sejauh
ini
berada
di dalam habitable zone tersebut. Sementara itu, sejumlah lainnya diketahui
memiliki
orbit
yang sangat eksentrik (elips) yang berakibat pada perbedaan jumlah kalor yang
diterima
planet
dan satelit dari bintang induknya.
Saat
planet dan satelit pengiring berada di titik terjauh di dalam orbit, jumlah
kalor yang
diterimanya
akan lebih sedikit daripada saat mereka berada di titik terdekat di dalam
orbit.
Semakin
elips bentuk suatu orbit, akan semakin besar pula perbedaan jumlah kalor yang
diterima
permukaan planet dan satelit pada saat berada di titik terdekat dan terjauhnya.
Sebagai
contoh adalah seperti yang terjadi pada sistem keplanetan 16 Cygni B yang
berada
dalam
sistem bintang ganda berpasangan dengan bintang 16 Cygni A. Planet yang
mengorbit
bintang
16 Cygni B memiliki kelonjongan yang besar, senilai 0,67.
Bintang
16 Cygni B sebagai bintang induk memiliki luminositas (jumlah energi yang
dipancarkan
seluruh permukaan bintang ke segala arah per detiknya) sebesar 1,4 kali
luminositas
Matahari (luminositas Matahari= 385 triliun triliun watt). Meskipun rata-rata
jumlah
energi
yang diterima planet dari bintang induknya hanya setengah kali yang diterima
Bumi dari
Matahari,
akibat orbit planet yang sangat lonjong variasi yang terjadi sangat besar, dari
20
persen
hingga 260 persen jumlah energi yang diterima permukaan Bumi. Tentunya hal ini
berpengaruh
pula terhadap satelit yang mengiringi planet tersebut.
Akankah
satelit-satelit alam yang mengiringi planet-planet gas raksasa tersebut suatu
saat di
masa
depan dapat menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni? Seperti halnya Bumi yang
perlu
waktu
untuk menyediakan lingkungan yang nyaman bagi keberadaan kehidupan, semua amat
bergantung
pada proses evolusi yang berlangsung di sana.
Kalaupun
di suatu saat nanti terbukti mampu menyediakan tempat yang nyaman bagi
keberlangsungan
kehidupan, mungkinkah peradaban manusia di muka Bumi ini berusia cukup
panjang
untuk bisa menyaksikannya? Ataukah justru umat manusia telah berhasil membentuk
koloni
di ruang angkasa seperti yang diimpikan mendiang astronom besar Carl Sagan?
Atau
melakukan
perjalanan antarbintang dan menemukan daerah layak huni lainnya sebagai
pengganti
Bumi yang telah sesak?
Segalanya
serba mungkin, dan yang terpenting adalah kesadaran untuk merawat Bumi yang
telah
menghidupi kita sekian lama ini.
Sumber
: Kompas (24 September 2004)
0 komentar:
Posting Komentar