SubmitYahoo Khutbah Jumat Generasi al-Ghuroba’ ~ Febri Irawanto - ilmu kita

Jumat, 14 Oktober 2011

Khutbah Jumat Generasi al-Ghuroba’

 Khutbah Jumat


Generasi al-Ghuroba’

.Dari Abi Hurairoh berkata, bahwa Rosulullah bersabda;
“Islam itu pada awalnya dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana
awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing"
Dalam riwayat Ahmad; Yaitu orang-orang yang sholih berada di tengah banyaknya orang-orang
yang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka.”
(HR. Muslim) 1)

Asingnya Islam saat pertama
Begitu berat dan dahsyat penderitaan nabi beserta sahabat-sahabatnya melaksanakan dakwah Islam
ini. Berbagai celaan, hinaan, pemboikotan, penyiksaan, pengejaran, pembantaian telah dialaminya
sampai Allah memberikan pertolongan.
Di saat kondisi jahiliyah yang parah, ternyata masih ada sekelompok manusia yang tetap tegak,
kokoh di atas kebenaran, istiqomah dengan ajaran al-Haq, Islam yang mulia. Meski dengan resiko
celaan, ejekan, dan rintangan. Sebab mereka memilih beriman apapun resikonya, bahwa inilah jalan
hidup yang wajib ditempuh, harga mati yang tidak akan ditawar lagi.
Ternyata, kekalahan, kehinaan dan kehancuran adalah bagi para penentang islam ini. Sebaliknya,
hasil akhir berupa kebahagiaan dan kemuliaan dunia - akhirat ada pada pihak yang Allah ridhoi.
Dengan janji-Nya; “Bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ar-
Ro’d: 29) 2)

Demikian ini menurut pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah, Qotadah, Ibnu Ajlan dan sebagainya. 3)
Ditengah masyarakat yang berideologi keropos, berpolitik demokrasi, berekonomi riba,
berkehidupan social materialis, berbudaya korup, berhukum sekular, berakhlaq barat, Alhamdulilah
Allah masih lahirkan manusia-manusia pilihan-Nya untuk mengemban dakwah Islam ini ke seluruh
pelosok dunia.

Siapakah orang asing itu ?
Rosulullah bersabda; Yaitu orang yang membuat perbaikan di saat manusia berbuat kerusakan.
(HR. Muslim) 4)
Al-Qodhi ‘iyadh berkata; maksud Islam akan kembali asing adalah ada di kota Madinah.
“Sesungguhnya iman akan pasti berkumpul di Madinah sebagaimana ular berlindung di
sarangnya” (HR. Bukhori) 5)

Pada masa awalnya, orang-orang berhijrah ke Madinah. Di antaranya ada yang termotivasi untuk
hidup berdekatan dengan rosulullah, ada yang ingin bertempat tinggal saja, dan ada yang ingin
membuat masyarakat guna melaksanakan agama 6)

Dan maksud pada umumnya adalah Islam awal mulanya dipeluk oleh sebagian kecil orang,
kemudian tersiar secara luas. Namun kelak pada suatu zaman pemeluk Islam yang benar-benar akan
kembali sedikit seperti awal mulanya. 7)

Hadits Amru bin Aufal-Muzanni berkata; “sesungguhnya agama ini awal mulanya dipandang asing,
dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut, yaitu orang yang
berbuat perbaikan-perbaikan tatkala manusia berada pada kerusakan” (HR. Muslim). 8)

Di tengah masyarakat yang terbuai dan terlalaikan dengan pernak-pernik kehidupan dunia, akan
tetap ada manusia yang berpegang teguh pada tali kebenaran Islam ini, maka mereka seolah-olah
dipandang aneh oleh orang-orang bodoh, karena berbeda dengan kebanyakan manusia pada
umumnya.
Kok ada manusia menegakkan sholat ketika manusia mengabaikannya. Kok masih ada orang yang
istiqomah mengutamakan Al-Qur’an di tengah-tengah manusia yang meremehkannya. Kok ada
orang yang menghiasi kehidupannya dengan ibadah di saat manusia-manusia terlena dengan
kelalaian, dan ternyata masih ada segolongan hamba yang mencintai akhirat di saat manusia yang
waktunya habis tersita untuk dunia.
Orang asing (Ghuroba’) itu adalah kelompok orang yang mendapatkan keselamatan, selamat
sentausa dengan berpegang erat pada Al-Qur’an dan as-Sunnah. 9)

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rojab; Rosulullah bersabda;
ktZeä5oivp kte;5oiks=N}v Àufeã=iýæ Öiüä] Öiü0iüoidã?%v
Ä|<ä6çeãrãp<Å ce:2Qksp ufeã =iü kt~%ý}.1
“Senantiasa ada dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai
mereka orang yang tidak menolong mereka, dan orang yang menyelesihi mereka. Hingga datang
perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu” (HR. Bukhory). 10)

Ulama’ mutaakhirin mensifati orang asing itu adalah yang meyelamatkan aqidahnya dari syubhat,
memperkuat keimanannya, menjaga ketaqwaannya, maka mereka selamat pula hidupnya dunia
akhirat. Adapun yang di luar mereka adalah orang-orang yang sesat binasa.
Orang asing adalah mereka yang meneguhkan komitmennya dengan aqidah tauhid di saat orang
bergelimang kesyirikan, berleha-leha dalam kelalaian. Orang asing adalah mereka yang loyal
dengan imannya di tengah komunitas kuffar, yang tetap istiqomah dengan sunnah tatkala sebagian
cecunguk asyik dengan bid’ahnya.
Orang asing adalah mereka yang mengikuti rosulullah, sahabat-sahabatnya, tabi’in (murid para
sahabat), tabi’ut-tabi’in, serta imam-imam yang mendapatkan petunjuk dengan setia. Maka ikutilah
mereka, tempuhlah manhaj-nya, sebab siapa saja yang mengikuti mereka akan selamat, jika tidak
sesatlah dirinya. 11)

Orang asing adalah mereka yang tegak dengan dakwah islam, terang benderang di atas kebenaran
lahir maupun bathin, baik dengan ucapan maupun perbuatan, yang tulus ikhlas, penuh kesungguhan
dan kemantapan hati. Orang asing adalah mereka yang berjihad melawan musuh-musuh dakwah
Islam dari kelompok liberal, sekular materialis, neo muktazilah, jahmiyah, golongan khowarij,
syi’ah rofidhoh, murji’ah, qodariyah, sufi kebatinan dan setiap musuh agama.
Orang asing adalah mereka yang disebutkan dalam ayat;
“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah semuanya dan jangan bercerai berai, ” (QS. Ali-
Imron: 108) 12)

Orang asing adalah mereka yang melaksanakan seruan ayat;
“Dan tidak pantas bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan manakala Allah dan rosul-Nya
telah menetapkan suatu urusan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dari urusan mereka. Dan
barang siapa yang mendurhakai Allah dan rosul-Nya maka sungguh ia telah sesat dengan
nyata” (QS. Al- Ahzab: 36) 13)

Orang asing adalah;
“Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidaklah beriman sampai mereka menjadikan
kamu hakim pada apa - apa yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan
dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menyerahkan diri dengan
sebenar-benanrnya” (QS. An- Nisa’: 65) 14)

Orang asing tersebut adalah mereka amat mengagungkan sunnah. Yaitu orang yang menjaga
sunnah-sunnah ketika manusia membuat kerusakan-kerusakan di dalamnya dengan beraneka ria
TBC (tahayul, Bidah dan Churofat). 15)
Beruntunglah orang yang asing
Orang asing adalah mereka yang mengikuti rosulullah dalam beragama yang meliputi aqidah,
ibadah, manhaj, akhlaq, dan dakwah. Maka kebahagiaan bagi mereka. Sebagaimana do’a kita dalam
sholat;
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas
mereka” (QS. Al-Fatihah: 6 -7) 16)

Lantas, siapakah yang dimaksud orang yang diberi nikmat tersebut?. Yaitu;
“Dan orang-orang yang taat kepada Allah dan rosul, maka mereka itulah golongan yang bersama
orang-orang yang beri nikmat oleh Allah atas mereka, yaitu para nabi, shiddiqin, para syuhada’ dan
orang-orang sholih” (QS. An-Nisa’: 69) 17)

Kesimpulan dari al-Auza’i; asing maksudnya sedikit sekali manusia yang benar-benar berada pada
sunnah sehingga disifati asing, tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya. 18) manusia pilihan
yang tidak ikut-ikutan dengan gelombang kehidupan materilialisme, tidak pula terombang- ambing
dengan gelimang syahwat dan syubhat.
Imam at-Tsaury berkata; ketahuilah bahwa para pelaku sunnah adalah orang-orang asing (al-
ghuroba’) itu. Yunus ibnu ‘ubaid juga menjelaskan; tidaklah tersisa sedikitpun dari ajaran nabi berupa melaksanakan sunnah-sunnah melainkan akan dirasa asing oleh manusia yang tidak
mengerti” 19)

“Akan tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Robb-Nya bagi mereka surga-surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal dari sisi Allah. Dan
apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang berbuat baik” (QS. Ali-Imron: 198)
20)

Khotimah
Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang Allah beri nikamt atas mereka di dunia dan
akhirat. Sebagaimana telah dijelaskan. Dan bukan kebanyakan manusia yang melalaikan dirinya
akan tujuan kehidupannya. Amiin. [Sy@h]

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Blog Pinger Free